logo www.mandarmaju.com

 

search:

 
daftar Toko Buku

Untuk informasi silahkan hubungi melalui email atau telpon ke +62226018218

keranjang belanja | checkout
A | B | C | D | E | F | G | H | I | K | L | M | N | P | Q | R | S | T | U | V | W | Y | Z | All |

STUDI BAHASA KRITIS
Menguak Bahasa Membongkar Kuasa

pengarang:
Prof. DR. Anang Santoso

ISBN 978-979-538-404-5

Cetakan:
I / 2012

Tebal:
XVI + 247

Harga:
Rp 55000

Deskripsi Singkat:

Kita sekarang hidup dalam sebuah zaman perubahan sosial yang begitu cepat, era "tunggang langgang", era "hiperrealitas", era "modernitas akhir", era di mana tidak begitu jelas perbedaan antara "benar" dan "salah", antara "kiri" dan "kanan", era yang mencampuradukkan "yang tinggi" dan "yang rendah". Dalam perubahan yang berlangsung itu semakin disadari betapa amat pentingnya peranan bahasa. Pada era seperti ini bahasa bukan sekadar sebagai alat komunikasi semata, lebih dari itu bahasa sering dimanfaatkan sebagai alat untuk menunjukkan adanya kekuasaan atau kekuatan tertentu oleh pemakai bahasa. Bahasa bukan sebagai alat komunikasi yang netral, tetapi bahasa menjadi sesuatu yang tidak pernah netral lagi.

Untuk memahami hiperrealitas penggunaan bahasa tersebut dibutuhkan studi bahasa kritis. Studi bahasa kritis begitu perhatian terhadap aspek kuasa dan ideologi yang ada di dalam relasi kebahasaan. Studi bahasa kritis memandang bahwa setiap pilihan bahasa mengandung "agenda yang tersembunyi" (hidden agenda). Analis bahasa kritis akan selalu menatap dengan sikap curiga, kritis, tidak begitu percaya kepada setiap penggunaan bahasa, terutama penggunaan bahasa untuk kepentingan publik.

Dengan demikian, studi bahasa kritis hakikatnya studi bahasa yang dikembangkan untuk tujuan pemberdayaan. Studi bahasa kritis amat peduli dengan kelompok yang kalah dan terpinggirkan secara lingual. Studi bahasa kritis amat sadar dengan keberadaan konsumen yang secara tidak sadar dan atau bawah sadar "terjajah", terdeterminasi, terhegemoni, dan terdominasi oleh teks-teks yang dikonsumsinya itu. Karena sifatnya yang emansipatoris ini, studi bahasa kritis selalu mengedepankan cara berpikir "kritis", sebuah semangat, cara pikir, dan cara tindak yang sudah lama diusung oleh ilmu-ilmu sosial dan filsafat kritis aliran Frankfurt.

 

Daftar isi:

KATA PENGANTAR. v

DAFTAR ISI ix

 

PENGANTAR KEPADA PARADIGMA KRITIS KEBAHASAAN

BAB 1 STUDI BAHASA KRITIS: APA, MENGAPA, DAN UNTUK APA. 1

1.1 Pengantar 1

1.2 Bahasa dalam Masyarakat Kontemporer 2

1.3 Bahasa sebagai Praktik Sosial 3

1.3.1 Relasi Kuasa dan Kelas Sosial 4

1.3.2 Relasi Kuasa dan Politik. 6

1.3.3 Macam-macam Kuasa. 8

1.4 Transformasi Realitas dan Ideologi 10

1.4.1 Transformasi Leksikal 11

1.4.2 Transformasi Gramatikal 12

1.5 Mengapa Studi Bahasa Kritis Diperlukan. 14

1.6 Isi Buku Ini 19

 

BAB 2 DESKRIPTIF VERSUS KRITIS DALAM STUDI BAHASA. 29

2.1 Pengantar 29

2.2 Filosofis-Logis dan Deskriptif-Etnografis 30

2.2.1 Filosofis-Logis 30

2.2.2 Deskriptif-Etnografis 32

2.3 Formalisme dan Fungsionalisme. 34

2.3.1 Formalisme. 34

2.3.2 Fungsionalisme. 35

2.4 Sistemik dan Kontekstual 36

2.4.1 Sistemik. 36

2.4.2 Kontekstual 38

2.5 Deskriptif dan Kritis dalam Studi Bahasa. 40

2.5.1 Deskriptif dan Kritis dalam Linguistik. 40

2.5.2 Deskriptif dan Kritis dalam Sosiolinguistik. 41

2.5.3 Deskriptif dan Kritis dalam Pragmatik. 43

2.5.4 Deskriptif dan Kritis dalam Analisis Wacana. 44

2.6 Penutup. 47

 

BAB 3 STUDI BAHASA DALAM BINGKAI KAJIAN BUDAYA. 49

3.1 Mengapa Studi Bahasa Terkait Kajian Budaya?. 49

3.2 Kajian Budaya: Pengertian dan Ruang Lingkup. 51

3.3 Konsep Kunci dalam Kajian Budaya. 53

3.3.1 Kebudayaan dan Praktik Pemaknaan. 53

3.3.2 Representasi 54

3.3.3 Materialisme dan Nonreduksionisme. 57

3.3.4 Kekuasaan. 58

3.3.5 Ideologi dan Hegemoni 59

3.3.6 Teks dan Pembacanya. 60

3.3.7 Subjektivitas dan Identitas 61

3.4 Studi Bahasa yang Berorientasi Kajian Budaya. 61

3.4.1 Bersifat "Kritis" 62

3.4.2 Bersifat "Instrumental" 63

3.4.3 Pemberdayaan terhadap Kelompok Subordinat 64

3.4.4 Kendala Nonlingual Pilihan Bahasa. 64

3.4.5 Teks sebagai Realisasi Modus Wacana. 65

3.4.6 Bahasa dan Fungsi Pengklasifikasi 66

3.4.7 Kritis terhadap Konvensi Sosial 67

3.4.8 Penempatan Teks dalam Konteks 69

3.4.9 Pengintegrasian Aspek-aspek Dialog. 70

3.4.10 Fokus Kajian pada Makna Sosial 72

3.4.11 Fitur Lingual sebagai Pembawa Ideologi 73

3.5 Penutup. 74

 

PRALINGUISTIK KRITIS

BAB 4 FILSAFAT DAN TEORI SOSIAL KRITIS. 75

4.1 Pengantar 75

4.2 Teori Kritis: Ilmu yang Memberdayakan. 76

4.2.1 Awal Kelahiran. 76

4.2.2 Isi Pokok Ajaran Kritis 78

4.3 Pengaruh Teori Kritis ke dalam Ilmu Bahasa. 81

4.3.1 Munculnya Dikotomi Deskriptif dan Kritis 81

4.3.2 Munculnya Kesadaran Dominasi dalam Bahasa. 81

4.3.3 Munculnya Semangat Emansipasi 82

4.3.4 Munculnya Kesadaran Historis Kajian Bahasa. 82

4.4 Penutup. 83

 

 

BAB 5 BAHASA SEBAGAI SEMIOTIKA SOSIAL. 84

5.1 Pengantar 84

5.2 Bahasa, Manusia Sosial, dan Semiotika Sosial 85

5.3 Bidang Kajian. 88

5.3.1 Teks 88

5.3.2 Konteks Situasi 91

5.3.3 Register 93

5.3.4 Kode. 94

5.3.5 Sistem Lingual 95

5.3.6 Struktur Sosial 98

5.4 Penutup. 99

 

LINGUISTIK KRITIS DAN ANALISIS WACANA KRITIS

BAB 6 LINGUISTIK KRITIS. 101

6.1 Pengantar 101

6.2 Latar Belakang Kelahiran. 102

6.3 Bahasa sebagai Praktik Sosial 105

6.4 Analisis Wacana Publik: Linguistik Kritis dan Struktural 107

6.5 Lahan Kajian bagi Linguistik Kritis 108

6.6 Piranti Analisis Linguistik Kritis 109

6.6.1 Piranti Penidakakraban. 109

6.6.2 Pemunculan Kesadaran. 110

6.6.3 Piranti dari Komponen Linguistik Fungsional 111

6.7 Analisis Linguistik Kritis: Sebuah Contoh. 111

6.8 Beberapa Fitur Lingual Pengungkap Ideologi 113

6.9 Penutup. 115

 

BAB 7 ANALISIS WACANA KRITIS. 116

7.1 Awal Kelahiran. 116

7.2 Beberapa Tokoh Analisis Wacana Kritis 118

7.3 Beberapa Pengertian. 120

7.3.1 Pengertian Analisis Wacana Kritis 120

7.3.2 Pengertian Teks, Konteks, dan Wacana. 121

7.3.3 Pengertian Institusi dan Wacana Institusi 122

7.4 Lahan Kajian bagi Analisis Wacana Kritis 124

7.5 Karakteristik Analisis Wacana Kritis 124

7.5.1 Wacana sebagai  Tindakan. 125

7.5.2 Peran Konteks dalam Produksi dan Interpretasi Wacana. 125

7.5.3 Wacana sebagai Produk Historis 126

7.5.4 Wacana sebagai Pertarungan Kekuasaan. 126

7.5.5 Wacana sebagai Praktik Ideologi 126

7.6 Makna "Kritis" dalam Analisis Wacana Kritis 127

7.6.1 Fitur Wacana Hanya sebagai Gejala dari Persoalan yang Lebih Besar 127

7.6.2 Dominasi Satu Formasi Ideologis Diskursif dalam Setiap Institusi 127

7.6.3 Hubungan Dialektis antara Struktur Mikro dan Makro. 128

7.6.4 Tujuan Kritis dan Naturalisasi 129

7.6.5 Tiga Kritikan terhadap Analisis Wacana Deskriptif 130

7.7 Prosedur Analisis Wacana Kritis 131

7.7.1 Analisis Teks Bahasa. 132

7.7.2 Analisis Praktik Kewacanaan. 133

7.7.3 Analisis Praktik Sosiokultural 133

7.8 Penutup. 135

 

BAB 8 ASPEK KEBAHASAAN SEBAGAI PEMBAWA IDEOLOGI 137

8.1 Pengantar 137

8.2 Bahasa dan Ideologi 138

8.3 Fitur Lingual Pembawa Ideologi 140

8.3.1 Proses Leksikal 142

8.3.2 Relasi Makna yang Ideologis 144

8.3.3 Metafora. 145

8.3.4 Ekspresi Eufemistik. 147

8.3.5 Kata-kata "Formal" dan "Informal" yang Mencolok. 147

8.3.6 Evaluasi "Positif" dan "Negatif" 149

8.3.7 Ketransitifan. 151

8.3.8 Nominalisasi 153

8.3.9 Piranti Sintaksis 154

8.3.10 Pemasifan. 155

8.3.11 Penegasian. 156

8.3.12 Modus Kalimat: Deklaratif, Interogatif, dan Imperatif 156

8.3.13 Modalitas 157

8.3.14 Pronomina Persona. 158

8.3.15 Tindak Ujaran. 159

8.3.16 Implikatur 160

8.3.17 Sapaan, Nama, dan Rujukan Pribadi 161

8.3.18 Fonologi 161

8.3.19 Gilir Tutur 162

8.3.20 Pengontrolan Partisipan. 163

8.3.21 Pengurutan Teks 164

8.4 Penutup. 164

 

PENERAPAN STUDI BAHASA KRITIS

BAB 9 KUASA DAN IDEOLOGI DALAM KOSAKATA BAHASA PEREMPUAN  166

9.1 Pengantar 166

9.2 Dari Bahasa Perempuan ke Wacana Perempuan. 167

9.3 Metode Penelitian. 168

9.4 Hasil Penelitian dan Pembahasan. 172

9.4.1 Ideologi dalam "Nilai Pengalaman" Kosakata. 172

9.4.2 Ideologi dalam "Nilai Relasional" Kosakata. 182

9.4.3 Ideologi dalam "Nilai Ekspresif" Kosakata. 184

9.4.4 Perspektivitas Pilihan Kosakata Tertentu: Sebuah Eksplanasi 189

9.5 Penutup. 190

 

BAB 10 MENGUAK KUASA DAN IDEOLOGI MELALUI PILIHAN KETRANSITIFAN  192

10.1 Pengantar 192

10.2 Teori Ketransitifan. 193

10.3 Metode Penelitian. 196

10.4 Hasil Penelitian dan Pembahasan. 198

10.4.1 Proses Material 200

10.4.2 Proses Mental atau Proyeksi 208

10.4.3 Proses Relasi atau Proses "Menjadi" 210

10.5 Penutup. 216

 

BAB 11 METAFORA SEBAGAI SARANA PELACAK IDEOLOGI 217

11.1 Pengantar 217

11.2 Politik dan Wacana Politik. 218

11.3 Rambu-rambu Orwell tentang Bahasa Politik. 219

11.4 Pengertian Metafora. 221

11.5 Analisis Wacana Kritis Metafora Politik. 222

11.6 Penutup. 226

 

STUDI BAHASA KRITIS: CATATAN AKHIR

BAB 12 PENUTUP. 228

12.1 Studi Bahasa Kritis dan Arah Pendulum Keilmuan. 228

12.2 Studi Bahasa Kritis dan Perspektif Emansipasi 229

12.3 Kesadaran Bahasa Kritis dalam Masyarakat 231

12.4 Masa Depan Studi Bahasa Kritis 232

 

DAFTAR PUSTAKA. 233

GLOSARIUM 239

BIOGRAFI PENULIS 246