logo www.mandarmaju.com

 

search:

 
daftar Toko Buku

Untuk informasi silahkan hubungi melalui email atau telpon ke +62226018218

keranjang belanja | checkout
A | B | C | D | E | F | G | H | I | K | L | M | N | P | Q | R | S | T | U | V | W | Y | Z | All |

Cara Mudah Memahami Proses Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Dilengkapi Dengan Studi Kasus Kepailitan

pengarang:
DR. Edward Manik, SH., LL.M.

ISBN 978-979-538-395-6

Cetakan:
I / 2012

Tebal:
XI + 251

Harga:
Rp 55000

Deskripsi Singkat:

Buku ini mengulas tentang Hukum Kepailitan setelah diberlakukannya Undang-Undang No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Tidak seperti Undang-Undang No.4 Tahun 1998 yang lalu , yang banyak menuai kritik dan menimbulkan keenganan para pencari keadilan untuk melakukan upaya hukum Kepailitan, Undang-Undang ini telah melakukan banyak perubahan dan trobosan baru, sehingga dapat dilihat begitu meningkatnya perkara kepailitan yang masuk ke Pengadilan Niaga.

Untuk lebih memperjelas pemahaman  kepailitan tidak hanya dalam aspek teoritis, dalam buku ini juga dibahas proses kepailitan dan PKPU secara sederhana, studi kasus yang terjadi sebelum berlakunya undang-undang kepailitan ini yang banyak menjadi bahan perdebatan bagi para praktisi hukum. Hal yang tidak kalah penting bagi para Kurator dan Pengurus buku ini juga dilengkapi dengan contoh format bentuk laporan berkala laporan akhir Kurator dan Pengurus yang dikeluarkan oleh dewan pengurus Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia sebagai bahan pertimbangan masukan bagi Kurator dalam melaksanakan tugasnya, seperti laporan apa saja yang mereka wajib sampaikan dan apa saja yang termuat dalam laporan-laporan tersebut.

 

Daftar isi:

KATA PENGANTAR|v

DAFTAR ISI|vii

 

BAB I     PERKEMBANGAN KEPAILITAN DI NEGARA COMMON LAW DAN INDONESIA|1

1.        Sejarah Hukum Kepailitan di Negara Common Law |1

1.1     Tujuan dari Undang-Undang Kepailitan|4

1.2     Pihak-pihak yang Terlibat dalam Kepailitan|7

2.        Perkembangan Hukum Kepailitan di Indonesia|9

2.1     Beberapa Perubahan Pokok UU No. 4 Tahun

       1998|14

2.2     Ketentuan Mengenai Tindakan Sementara|21

2.3     Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Sebagai Pengganti Undang-undang No. 4 Tahun 1998|26

 

BAB II   PROSEDUR PERMOHONAN KEPAILITAN|30

1.    Proses Perkara Kepailitan di Pengadilan Niaga|30

1.1  Pengertian Kepailitan|31

1.2  Syarat-syarat Permohonan Kepailitan|36

1.3  Dokumen-dokumen yang Diperlukan di dalam Pengajuan Pailit|46

2.    Struktur dan Kedudukan Kreditor dalam Proses Kepailitan|49

2.1  Kedudukan Utang  Pajak Sebagai Kreditor  Dengan Hak Mendahului|51

2.2     Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa|54

2.2.1        Dasar Hukum Penagihan Pajak|55

2.2.2        Penerbitan Surat Paksa|56

2.2.3        Pemberitahuan Surat Paksa|56

2.2.4        Pemberitahuan Surat Perintah     Melaksanakan Penyitaan (SPMP)|58

2.2.5        Pelaksanaan Penyitaan|59

2.3     Tindakan Yuridis Setelah Putusan Pailit|59

 

 

 

 

BAB III RUANG LINGKUP TUGAS DAN KEWENANGAN KURATOR|70

1.        Syarat dan Ketentuan Sebagai Kurator dan Pengurus Kepailitan|70

2.        Kedudukan Kurator Dalam Hukum Pailit|72

             3.    Tugas-tugas Pokok dan Kewenangan Kurator|75

3.1     Tugas Kurator Dalam Kerangka Penjualan Harta Pailit|82

3.2     Tata Cara Pelaksanaan Tugas-tugas Kurator|85

3.3     Peranan Kurator Dalam Kepailitan Bidang Perpajakan|90

3.4     Pelaksanaan Penagihan Dalam Kepailitan|92

3.5     Perlindungan Terhadap Pelaksanaan Tugas

       Kurator | 93

3.6     Tugas Kurator Untuk Memberikan Laporan|95

 

 

BAB IV  AKIBAT-AKIBAT HUKUM DARI KEPAILITAN    |106

1.        Keputusan Pailit Bersifat Serta Merta|106

2.        Kehilangan Hak Untuk Menguasai dan Mengurus|107

3.        Berlaku Sitaan Umum Atas Seluruh Harta Debitor|108

4.        Harta Pailit Dapat Disegel|110

5.        Berlaku Penangguhan Eksekusi Jaminan Utang|111

6.    Berlaku Actio Pauliana|112

7.    Perikatan Setelah Debitor Pailit Tidak Dapat Dibayar|114

8.        Pembayaran Kepada Debitor Sesudah Pernyataan Pailit Dapat Dibatalkan|115

9.        Gugatan Hukum Harus Dilakukan Oleh/Terhadap Kurator|115

10.    Pelaksanaan Putusan Hakim Dihentikan|116

11.    Debitor Pailit Dapat Disandera (gijzeling) dan Paksaan Badan|117

12.    Debitor Pailit Dapat Dipidana|119

13.    Debitor Pailit Dilepas dari Tahanan Dengan Atau Tanpa Uang Jaminan|121

14.    Transaksi Future, Forward maupun Sewa Menyewa Dihentikan|122

15.    Pemutusan Hubungan Kerja Terhadap Karyawan|123

15.1     Pemutusan Hubungan Kerja Demi Hukum |124

15.2     Pemutusan Hubungan Kerja Oleh Perusahaan|124

15.3  Pemutusan Hubungan Kerja Oleh Buruh |125

15.4  Pemutusan Hubungan Kerja Karena Putusan Pengadilan|125

16.  Teman Sekutu Debitor Pailit  Berhak Mengkompensasi Utang dengan Keuntungan|126

17.  Hak Retensi Tidak Hilang|126

18.    Barang-barang Berharga Milik Debitor Pailit Disimpan Oleh Kurator|127

 

BAB V    UPAYA HUKUM PERDAMAIAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG|129

1.        Pengertian Perdamaian|129

1.1     Upaya Hukum Terhadap Penolakan dalam Homologasi|132

1.2     Tidak Berlaku Bagi Kreditor Separatis dan Kreditor Didahulukan|133

2.        Proses Perdamaian dalam Kepailitan|134

2.1  Tahap Pengajuan Usul Perdamaian dan Pengumuman|136

2.2     Tahap Rapat Pengambilan Keputusan Perdamaian|136

2.3     Tahap Sidang Homologasi|138

2.4  Tahap Kasasi terhadap Homologasi|139

3.        Berakhirnya Perdamaian|139

3.1     Rencana Perdamaian Tidak Diterima Oleh Kreditor Konkuren|139

3.2     Rencana Perdamaian Ditolak Oleh Pengadilan Niaga Dalam Sidang Homologasi|140

3.3     Perdamaian Dibatalkan Oleh Pengadilan Niaga|141

4.        Upaya Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)|141

5.        Perdamaian (Accord) Dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran         tang|147

6.        Pengakhiran Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang|148

6.1  Kapan Berakhirnya Penundaan Kewajiban  Pembayaran   Utang|148

6.1.1   Diakhiri Karena Kesalahan Debitor|149

6.1.2   Dicabut   Karena   Keadaan   Harta  Debitor Sudah Membaik|150

6.1.3   Berakhir Karena tercapai Perdamaian|150

6.1.4   Berakhir Karena Rencana Perdamaian

         Ditolak|150

6.1.5   Berakhirnya Karena Perdamaian Tidak  Disahkan Oleh Pengadilan Niaga|151

6.1.6   Berakhir Karena Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Dibatalkan|152

6.1.7   Berakhir Setelah Masa Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terlampaui|152

6.1.8   Berakhir Karena Tidak Tercapai Perdamaian|152

6.1.9   Berakhir Karena Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Secara Tetap Tidak Disetujui Oleh Kreditor|153

6.2     Makna 270 Hari bagi Penundaan Kewajiban Pembayaran             Utang|153

6.2.1 270 Hari Batas Maksimum|153

6.3  Akibat-akibat Hukum Dari Penundaan Kewajiban

       Pembayaran Utang|154

6.3.1   Debitor Kehilangan Independensinya|155

6.4  Pembayaran kepada Debitor yang Telah   Memperoleh    Penundaan Pembayaran Utang Tidak Membebaskan Harta      Kekayaan|161

6.5     Perbuatan Debitor Tidak Dapat Dibatalkan Oleh Kurator|162

6.6     Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Dapat Dilakukan Berkali-kali|163

6.7     Berlaku Ketentuan Pidana|163

 

 

BAB VI  BERAKHIRNYA KEPAILITAN DAN PEMBAGIAN

              HASIL|165

1.        Beberapa Macam Cara Berakhirnya Suatu Kepailitan|165

1.1  Tercapainya Perdamaian|165

1.2  Kepailitan Berakhir Setelah  Insolvensi|166

1.3  Kepailitan Dicabut Atas Anjuran Hakim

       Pengawas|169

1.4  Kepailitan Berakhir Jika Putusan Pailit

       Dibatalkan di Tingkat Kasasi atau Peninjauan

       Kembali|170

 

 

2.    Likuidasi Aset|170

2.1     Penjualan Aset Oleh Kurator|170

2.1.1   Untuk Menutupi Ongkos Kepailitan|171

2.1.2   Kurator   Menjual  Barang  Jaminan  Utang  Dalam Masa Penangguhan Eksekusi Jaminan Utang|171

2.1.3   Barang yang Tidak Diperlukan Untuk Kelangsungan Usaha Boleh Dijual|172

3.    Pembagian Aset dan Proses Pembayarannya|172

3.1     Proses Pembayaran Kepada Kreditor dalam Pemberesan|173

3.2  Aset Debitor yang Tidak Perlu Dibagi|175

3.2.1   Aset-aset Tertentu dari Debitor Pailit|175

3.2.2   Sejumlah Perabot Rumah Tangga|176

4.        Rehabilitasi|176

 

BAB VII  STUDI KASUS ATAS PUTUSAN PENGADILAN

               NIAGA|180

1.      Kasus I|180

1.1  Analisa Kasus Penetapan Klausula Abritrase|194

2.      Kasus 2|196

2.1  Analisa Kepailitan Perusahaan Asuransi dan Perkara Sederhana|227

3.      Kasus 3|230

3.1  Analisa Kasus Kepailitan Terhadap Perusahaan yang Sudah Dilikuidasi|245

 

DAFTAR PUSTAKA|247

RIWAYAT PENULIS |249